Cara Membuat Konten Promosi Produk yang Menarik untuk Jualan Online

Cara Membuat Konten Promosi Produk yang Menarik untuk Jualan Online

Admin Qlike
Admin Qlike
Sep 14, 2026
13 menit baca
2 dilihat

Promosi produk di media sosial tidak selalu harus berupa postingan yang mengatakan “Yuk beli sekarang!”. Jika setiap konten hanya berisi ajakan membeli, calon customer bisa cepat merasa bosan atau bahkan menganggap akun tersebut hanya berisi iklan.

Konten promosi yang menarik justru membantu calon customer mengenal produk, memahami manfaatnya, melihat bagaimana produk digunakan, dan akhirnya merasa yakin untuk membeli. Karena itu, penting untuk mengetahui cara membuat konten promosi produk yang tidak hanya terlihat menarik, tetapi juga memiliki tujuan yang jelas.

Artikel ini akan membahas cara membuat konten promosi produk untuk berbagai media sosial, mulai dari menentukan tujuan, membuat ide konten, menulis caption, menggunakan foto atau video, sampai mengarahkan calon customer ke katalog dan WhatsApp.

Apa Itu Konten Promosi Produk?

Konten promosi produk adalah konten yang dibuat untuk memperkenalkan, menjelaskan, atau mendorong seseorang agar tertarik terhadap suatu produk atau layanan.

Konten tersebut bisa berbentuk foto produk, video pendek, tutorial, edukasi, testimonial, perbandingan produk, cerita di balik bisnis, hingga promo khusus.

Jadi, konten promosi tidak harus selalu menjual secara langsung. Konten yang memberikan informasi atau menjawab masalah customer juga dapat menjadi bagian dari strategi promosi karena membantu membangun kepercayaan sebelum seseorang melakukan pembelian.

Mengapa Konten Promosi Penting untuk Jualan Online?

Saat berjualan secara online, calon customer tidak dapat melihat produk secara langsung seperti ketika berbelanja di toko fisik. Mereka biasanya mengandalkan foto, video, deskripsi, ulasan, dan informasi yang diberikan penjual.

Konten yang baik membantu mengurangi keraguan tersebut. Semakin mudah calon customer memahami produk dan manfaatnya, semakin mudah pula mereka mempertimbangkan pembelian.

Selain itu, konten dapat membantu bisnis tetap muncul di hadapan calon customer. Tidak semua orang langsung membeli setelah melihat produk untuk pertama kalinya. Ada yang baru tertarik setelah melihat produk beberapa kali atau setelah menemukan konten yang menjawab kebutuhannya.

Jangan Membuat Semua Konten Terasa Seperti Iklan

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika mulai promosi di media sosial adalah membuat setiap postingan sebagai iklan.

Misalnya, setiap hari hanya mengunggah:

“Produk kami bagus, buruan beli!”

Cara tersebut mungkin bisa digunakan sesekali, terutama ketika ada promo. Namun jika dilakukan terus-menerus, konten akan terasa monoton.

Cobalah menggunakan beberapa jenis konten agar akun bisnis terasa lebih natural. Sebagian konten dapat mengenalkan produk, sebagian memberikan informasi, sebagian menunjukkan pengalaman customer, dan sebagian lainnya memberikan penawaran.

Dengan begitu, promosi tidak terasa seperti memaksa customer untuk membeli.

1. Tentukan Tujuan Sebelum Membuat Konten

Sebelum membuat postingan, tentukan terlebih dahulu apa yang ingin dicapai.

Tujuan konten bisa berbeda-beda, misalnya:

  • mengenalkan produk baru

  • meningkatkan awareness

  • menjelaskan manfaat produk

  • mendapatkan interaksi

  • mendatangkan pengunjung ke katalog

  • mendapatkan pertanyaan dari calon customer

  • meningkatkan penjualan

  • memperkenalkan promo

  • membangun kepercayaan

Satu konten sebaiknya memiliki tujuan utama yang jelas.

Misalnya, jika tujuan utamanya adalah memperkenalkan produk baru, jangan membuat caption terlalu panjang dengan banyak penawaran berbeda. Fokuslah pada masalah yang diselesaikan produk, manfaat utama, dan cara customer mendapatkannya.

2. Kenali Masalah yang Dihadapi Customer

Konten promosi akan lebih menarik jika dimulai dari masalah atau kebutuhan customer, bukan langsung dari produk.

Contohnya, seorang penjual makanan dapat membuat konten:

“Sering bingung cari sarapan sebelum berangkat kerja?”

Setelah itu, produk dapat diperkenalkan sebagai salah satu solusi.

Pendekatan seperti ini membuat calon customer lebih mudah merasa relevan dengan konten tersebut. Mereka tidak hanya melihat sebuah produk, tetapi melihat hubungan antara produk dengan kebutuhan mereka.

Coba tanyakan:

  • Masalah apa yang sering dialami customer?

  • Apa yang mereka cari?

  • Apa yang membuat mereka ragu membeli?

  • Apa manfaat yang paling mereka butuhkan?

  • Pertanyaan apa yang paling sering mereka tanyakan?

Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat menjadi sumber ide konten.

3. Gunakan Hook yang Menarik Perhatian

Di media sosial, orang biasanya melihat banyak konten dalam waktu singkat. Karena itu, bagian awal konten sangat penting.

Hook adalah pembuka yang membuat seseorang tertarik untuk melanjutkan melihat atau membaca konten.

Beberapa contoh hook:

Berbasis masalah

“Bingung menentukan harga jual produk tanpa takut terlalu mahal?”

Berbasis manfaat

“3 cara sederhana membuat foto produk terlihat lebih menarik hanya dengan HP.”

Berbasis rasa penasaran

“Ternyata kesalahan kecil ini bisa membuat customer batal membeli.”

Berbasis target customer

“Kalau kamu baru mulai jualan online, coba perhatikan 3 hal ini.”

Hook tidak harus dibuat berlebihan. Yang penting, pembuka tersebut sesuai dengan isi konten dan memang memberikan informasi yang bermanfaat.

4. Buat Konten Berdasarkan Beberapa Pilar

Agar tidak kehabisan ide, bisnis dapat menggunakan beberapa content pillar atau tema utama.

Berikut beberapa jenis konten yang dapat digunakan.

Konten Produk

Konten ini memperkenalkan produk secara langsung.

Contohnya:

  • foto produk

  • video produk

  • fitur produk

  • varian produk

  • harga

  • ukuran

  • bahan

  • cara penggunaan

Contoh:

“Kenalan dengan varian baru kami: Cookies Choco Chip 250 gram. Cocok untuk camilan di rumah atau diberikan sebagai hampers.”

Konten Edukasi

Konten edukasi memberikan informasi yang masih berkaitan dengan produk atau kebutuhan customer.

Contohnya:

  • tips menggunakan produk

  • cara memilih produk

  • kesalahan yang harus dihindari

  • panduan perawatan

  • tips penyimpanan

Misalnya penjual skincare dapat membuat konten tentang cara menyimpan produk agar kualitasnya tetap terjaga.

Konten Masalah dan Solusi

Tunjukkan masalah yang sering dialami customer kemudian hubungkan dengan solusi yang ditawarkan.

Struktur sederhananya:

Masalah → Dampak → Solusi → Produk

Contohnya:

“Sering lupa membawa bekal? Siapkan makanan dalam kemasan praktis sejak malam sebelumnya. Kami menyediakan paket lauk siap makan yang bisa langsung dipanaskan.”

Konten Testimonial

Pengalaman customer dapat membantu calon pembeli merasa lebih yakin.

Jika mendapatkan izin dari customer, Anda dapat membagikan:

  • screenshot ulasan

  • foto customer menggunakan produk

  • video testimonial

  • rating

  • cerita pengalaman membeli

Jangan mengubah testimonial hingga menghilangkan konteks sebenarnya. Gunakan ulasan secara jujur dan sesuai dengan pengalaman customer.

Konten Behind the Scenes

Tidak semua konten harus memperlihatkan produk yang sudah selesai.

Tunjukkan proses di balik bisnis, seperti:

  • proses produksi

  • packing

  • menyiapkan pesanan

  • memilih bahan

  • membuat desain

  • menyiapkan stok

Konten seperti ini dapat membuat bisnis terasa lebih manusiawi dan membantu customer mengetahui bagaimana produk mereka dipersiapkan.

Konten FAQ

Pertanyaan yang sering ditanyakan customer dapat diubah menjadi konten.

Contohnya:

“Apakah bisa pesan satuan?”

“Berapa lama proses pengirimannya?”

“Apakah tersedia ukuran lain?”

“Bagaimana cara melakukan pemesanan?”

Selain membantu calon customer, konten FAQ juga dapat mengurangi pertanyaan yang sama berulang kali melalui chat.

Konten Promo

Konten promo digunakan ketika bisnis memiliki penawaran tertentu.

Misalnya:

  • diskon

  • bundling

  • gratis ongkir

  • bonus produk

  • promo pembelian dalam jumlah tertentu

  • promo untuk periode tertentu

Pastikan syarat promo dijelaskan dengan jelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

5. Tunjukkan Manfaat, Bukan Hanya Fitur

Customer biasanya tidak hanya ingin mengetahui apa yang dimiliki sebuah produk. Mereka juga ingin mengetahui apa manfaatnya bagi mereka.

Misalnya:

Fitur:

“Botol berkapasitas 1 liter.”

Manfaat:

“Kapasitas 1 liter membantu Anda membawa lebih banyak air sehingga tidak perlu terlalu sering mengisi ulang saat beraktivitas.”

Bukan berarti fitur tidak penting. Fitur tetap perlu dijelaskan, terutama untuk produk yang membutuhkan informasi teknis.

Namun, menghubungkan fitur dengan manfaat membuat informasi produk lebih mudah dipahami.

6. Gunakan Foto Produk yang Jelas

Visual menjadi bagian penting dari konten promosi, terutama ketika produk dijual secara online.

Pastikan produk terlihat jelas, pencahayaan cukup, dan background tidak mengganggu perhatian.

Anda tidak selalu membutuhkan kamera profesional. Dengan pencahayaan yang baik dan komposisi sederhana, kamera HP sudah dapat digunakan untuk menghasilkan foto produk yang layak.

Jika ingin mempelajari lebih lanjut, baca artikel:

Cara Foto Produk dengan HP agar Terlihat Profesional

Artikel tersebut dapat membantu Anda mempersiapkan foto yang nantinya digunakan dalam konten maupun katalog.

7. Gunakan Video untuk Menunjukkan Produk

Foto dapat menunjukkan tampilan produk, tetapi video dapat memberikan informasi yang lebih banyak dalam waktu singkat.

Misalnya, video dapat digunakan untuk menunjukkan:

  • ukuran produk

  • cara penggunaan

  • tekstur

  • proses pembuatan

  • cara membuka kemasan

  • proses packing

  • perbandingan ukuran

  • hasil penggunaan produk

Tidak perlu membuat video yang terlalu rumit.

Video sederhana dengan pencahayaan yang cukup dan penjelasan yang jelas sering kali sudah cukup untuk membuat produk lebih mudah dipahami.

8. Gunakan Struktur Konten yang Sederhana

Salah satu struktur yang mudah digunakan adalah:

Hook → Masalah → Solusi → Produk → CTA

Contohnya:

Hook: “Sering bingung mencari camilan untuk dibawa ke kantor?”

Masalah: “Camilan yang praktis sering kali cepat habis atau kurang mengenyangkan.”

Solusi: “Pilih camilan dengan ukuran yang praktis dan bisa disimpan di tas.”

Produk: “Kami menyediakan granola 250 gram dengan beberapa pilihan rasa.”

CTA: “Lihat varian dan harganya di katalog kami.”

Struktur tersebut tidak harus digunakan untuk setiap konten. Gunakan sebagai kerangka ketika Anda bingung harus memulai dari mana.

9. Buat Caption yang Mudah Dibaca

Caption tidak harus panjang. Yang lebih penting adalah informasi utama mudah ditemukan.

Hindari membuat satu paragraf panjang yang berisi semua informasi produk.

Pisahkan informasi penting seperti:

  • nama produk

  • manfaat

  • harga

  • varian

  • cara pesan

  • CTA

Contohnya:

Cookies Choco Chip 250g 🍪

Renyah di luar, lembut di dalam, cocok untuk teman ngopi atau camilan di rumah.

Tersedia dalam ukuran 250g dan 500g.

Harga mulai Rp35.000.

Lihat pilihan lengkap dan pesan melalui katalog kami.

Dengan format seperti ini, calon customer dapat memahami informasi utama tanpa harus membaca caption yang terlalu panjang.

10. Gunakan CTA yang Spesifik

CTA atau call to action adalah ajakan yang diberikan kepada customer setelah melihat konten.

Jangan selalu menggunakan “Beli sekarang!” jika tujuan konten Anda sebenarnya adalah mengarahkan customer ke informasi lebih lanjut.

Beberapa contoh CTA:

  • “Lihat katalog lengkap kami.”

  • “Cek varian dan harga melalui link di bio.”

  • “Kirim pesan jika ingin menanyakan stok.”

  • “Simpan postingan ini untuk referensi.”

  • “Hubungi kami melalui WhatsApp untuk melakukan pemesanan.”

  • “Lihat detail produknya di katalog.”

CTA sebaiknya sesuai dengan tahap customer.

Orang yang baru pertama kali mengenal produk mungkin belum siap membeli. Mereka bisa diarahkan untuk melihat katalog terlebih dahulu.

11. Hubungkan Konten dengan Katalog Produk

Media sosial bagus untuk menarik perhatian, tetapi calon customer tetap membutuhkan tempat untuk melihat informasi produk secara lebih lengkap.

Di sinilah katalog online dapat membantu.

Daripada mengirim banyak foto produk satu per satu melalui chat, Anda dapat mengarahkan customer ke satu katalog yang berisi produk, foto, harga, kategori, dan deskripsi.

Untuk mengetahui cara membuat katalog tanpa biaya, Anda juga dapat membaca:

Cara Membuat Katalog Produk Online Gratis untuk Jualan

Dengan alur yang sederhana, prosesnya dapat menjadi:

Konten → Katalog → Produk → WhatsApp → Pemesanan

Untuk bisnis yang menggunakan Qlike, katalog dapat digunakan sebagai etalase online yang dibagikan melalui media sosial maupun WhatsApp.

12. Manfaatkan Link di Bio Instagram

Jika Anda menggunakan Instagram untuk berjualan, jangan hanya mengandalkan postingan.

Arahkan calon customer dari konten menuju link yang mudah ditemukan di profil.

Misalnya:

Instagram → Link di Bio → Katalog Produk → WhatsApp

Dengan cara ini, calon customer tidak perlu mencari-cari produk atau bertanya satu per satu melalui DM.

Jika ingin mempelajari cara mengatur alur tersebut, baca:

Cara Membuat Link Bio Instagram untuk Jualan: Satukan Produk dan WhatsApp

13. Sesuaikan Konten dengan Platform

Konten yang sama tidak selalu harus dipublikasikan dengan format yang sama di semua platform.

Instagram

Instagram cocok untuk:

  • foto produk

  • carousel

  • Reels

  • testimonial

  • edukasi visual

  • Stories

Konten dapat dibuat lebih visual dan memanfaatkan desain yang konsisten dengan identitas bisnis.

TikTok

TikTok cocok untuk video pendek yang terasa natural.

Contohnya:

  • proses packing

  • before-after

  • tutorial

  • tips singkat

  • cerita bisnis

  • demonstrasi produk

  • menjawab pertanyaan customer

Tidak semua video harus terlihat seperti iklan profesional.

WhatsApp

WhatsApp dapat digunakan untuk menjangkau orang yang sudah memiliki hubungan dengan bisnis Anda.

Anda dapat membagikan:

  • produk baru

  • promo

  • stok tersedia

  • testimonial

  • tips

  • behind the scenes

  • katalog

Untuk strategi khusus WhatsApp Status, Anda dapat membaca:

Cara Promosi Produk di WhatsApp Status agar Tidak Terlihat Spam

14. Jangan Takut Mengulang Produk

Anda tidak harus memiliki produk baru setiap hari untuk membuat konten.

Satu produk dapat dibahas dari berbagai sudut.

Misalnya, satu produk makanan dapat menghasilkan konten tentang:

  1. tampilan produk

  2. proses pembuatannya

  3. bahan yang digunakan

  4. cara penyimpanan

  5. siapa yang cocok mengonsumsinya

  6. testimonial customer

  7. FAQ

  8. cara penyajian

  9. promo bundling

  10. perbandingan ukuran

Dengan pendekatan ini, Anda tidak perlu terus-menerus mencari produk baru hanya untuk membuat konten.

15. Buat Konten Berdasarkan Pertanyaan Customer

Customer sebenarnya dapat menjadi sumber ide konten yang sangat baik.

Catat pertanyaan yang sering muncul melalui WhatsApp, DM, atau komentar.

Misalnya banyak customer bertanya:

“Bisa pesan satuan?”

Buat konten tentang aturan pemesanan satuan.

Jika banyak yang bertanya:

“Ukurannya sebesar apa?”

Buat video yang menunjukkan ukuran produk dibandingkan dengan benda yang familiar.

Dengan cara ini, konten yang dibuat memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan customer.

16. Gunakan Konten Edukasi untuk Menjual Secara Tidak Langsung

Tidak semua konten harus berakhir dengan transaksi.

Misalnya penjual sepatu dapat membuat konten:

“Cara memilih ukuran sepatu agar tidak salah saat membeli online.”

Di akhir konten, penjual dapat memperkenalkan produknya secara natural:

“Jika sudah menemukan ukuran yang sesuai, Anda bisa melihat koleksi sepatu kami melalui katalog.”

Konten tersebut tetap membantu promosi, tetapi tidak membuat seluruh isi postingan terasa seperti iklan.

17. Buat Jadwal Konten yang Sederhana

Anda tidak perlu membuat kalender konten yang terlalu kompleks ketika baru mulai.

Contoh jadwal satu minggu:

Hari

Jenis Konten

Senin

Tips atau edukasi

Selasa

Foto produk

Rabu

Behind the scenes

Kamis

Masalah dan solusi

Jumat

Testimonial

Sabtu

Promo atau bundling

Minggu

FAQ atau konten ringan

Jadwal tersebut bukan aturan wajib. Anda dapat menyesuaikannya dengan jenis bisnis, kemampuan membuat konten, dan kebiasaan customer.

Yang lebih penting adalah konsisten dan mampu mempertahankan kualitas konten.

18. Hindari Beberapa Kesalahan Ini

Konten promosi dapat menjadi kurang efektif jika dilakukan tanpa memperhatikan pengalaman customer.

Beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari:

Terlalu Sering Menggunakan Hard Selling

Tidak setiap postingan harus berisi diskon atau ajakan membeli.

Informasi Produk Tidak Lengkap

Foto menarik tetapi tidak mencantumkan harga, ukuran, varian, atau cara membeli dapat membuat customer harus bertanya lebih banyak.

CTA Tidak Jelas

Customer sudah tertarik tetapi tidak tahu harus melakukan apa setelah melihat konten.

Foto Tidak Jelas

Produk yang bagus akan sulit menarik perhatian jika fotonya gelap atau terlalu ramai.

Klaim Berlebihan

Hindari klaim yang tidak dapat dibuktikan hanya untuk membuat produk terlihat lebih menarik.

Mengirim Promosi Berulang ke Customer

Promosi melalui WhatsApp atau DM sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan konteks dan kenyamanan penerima. Hindari mengirim pesan promosi secara berlebihan karena dapat dianggap mengganggu.

19. Jangan Lupa Memperbaiki Informasi Produk

Konten yang menarik akan kurang maksimal jika customer menemukan informasi yang berbeda ketika membuka halaman produk.

Pastikan harga, foto, deskripsi, varian, stok, dan cara pemesanan selalu diperbarui.

Deskripsi produk juga sebaiknya menjawab pertanyaan penting customer.

Jika ingin memperbaiki bagian tersebut, baca:

Cara Membuat Deskripsi Produk yang Menarik agar Customer Mau Membeli

Dengan begitu, konten promosi dan katalog memberikan informasi yang konsisten.

20. Ukur Konten yang Menghasilkan Respons

Tidak semua konten akan mendapatkan hasil yang sama.

Perhatikan beberapa indikator seperti:

  • jumlah views

  • likes

  • komentar

  • shares

  • saves

  • kunjungan profil

  • klik link

  • kunjungan katalog

  • pertanyaan melalui WhatsApp

  • jumlah pembelian

Jangan hanya melihat jumlah likes.

Konten dengan likes lebih sedikit tetapi menghasilkan banyak kunjungan katalog atau pertanyaan dari calon customer bisa jadi lebih bernilai untuk bisnis.

Setelah mengetahui konten yang mendapatkan respons bagus, buat variasi dari topik tersebut.

Contoh Konten Promosi Produk

Misalnya Anda menjual makanan ringan.

Contoh 1: Konten Masalah

Hook:

“Butuh camilan untuk nemenin kerja tapi bingung pilih apa?”

Isi:

“Coba siapkan camilan dalam kemasan yang praktis supaya bisa langsung dibawa ke kantor atau kampus.”

Produk:

“Kami punya beberapa pilihan cookies dalam ukuran 250g dan 500g.”

CTA:

“Lihat semua rasa dan harganya di katalog kami.”

Contoh 2: Konten Behind the Scenes

“Sebelum pesanan dikirim, setiap paket kami cek kembali satu per satu supaya produk sampai dalam kondisi baik. 📦

“Hari ini ada beberapa pesanan yang siap dikirim. Terima kasih sudah memilih produk kami!”

Konten seperti ini tidak secara langsung meminta orang membeli, tetapi tetap memperlihatkan aktivitas bisnis.

Contoh 3: Konten Testimonial

“Salah satu hal yang bikin kami senang jualan adalah ketika customer kembali membeli.”

“Terima kasih sudah memberikan review untuk produk kami! 💕

“Kalau ingin mencoba, varian dan harga lengkap tersedia di katalog.”

Pastikan testimonial yang digunakan memang berasal dari customer dan telah mendapatkan izin jika diperlukan.

Bagaimana Membuat Konten Promosi Jika Tidak Pandai Desain?

Tidak semua pemilik bisnis memiliki kemampuan desain grafis.

Jika baru mulai, jangan terlalu fokus membuat desain yang rumit. Prioritaskan informasi yang jelas, foto yang cukup baik, tulisan yang mudah dibaca, dan CTA yang mudah ditemukan.

Anda juga dapat menggunakan template untuk mempercepat proses pembuatan konten.

Yang paling penting bukan seberapa rumit desainnya, tetapi apakah calon customer dapat memahami:

Apa produknya? Apa manfaatnya? Berapa harganya? Bagaimana cara mendapatkannya?

Bagaimana Jika Hanya Punya Sedikit Produk?

Tidak masalah.

Bisnis dengan tiga produk pun tetap dapat membuat banyak konten.

Misalnya Anda memiliki tiga produk: A, B, dan C.

Produk A dapat dibahas dari sisi manfaat, cara penggunaan, testimonial, proses pembuatan, FAQ, harga, dan promo.

Kemudian lakukan hal yang sama untuk produk B dan C.

Anda juga dapat membuat konten perbandingan antarproduk untuk membantu customer memilih.

Dengan demikian, jumlah produk bukan satu-satunya faktor yang menentukan banyaknya konten yang dapat dibuat.

Hubungkan Semua Konten dengan Jalur Pembelian

Tujuan akhir promosi bukan sekadar mendapatkan views.

Customer perlu memiliki jalur yang jelas dari pertama kali melihat konten sampai melakukan pembelian.

Contoh alurnya:

Instagram/TikTok/WhatsApp → Link atau Profil → Katalog → Detail Produk → WhatsApp → Pesanan

Katalog berfungsi sebagai tempat customer mempelajari produk sebelum menghubungi penjual.

Jika Anda masih membangun sistem jualan online dari awal, Anda juga dapat mempelajari:

Cara Jualan Online untuk Pemula: Dari Nol Sampai Mendapatkan Customer Pertama

Artikel tersebut membahas proses yang lebih lengkap mulai dari memilih produk sampai mendapatkan customer pertama.

Kesimpulan

Cara membuat konten promosi produk yang menarik bukan berarti setiap postingan harus dibuat semenarik mungkin secara visual atau selalu menggunakan promo besar.

Konten yang efektif adalah konten yang membantu customer memahami produk, menjawab kebutuhan mereka, membangun kepercayaan, dan memberikan langkah berikutnya yang jelas.

Mulailah dengan beberapa jenis konten seperti konten produk, edukasi, masalah dan solusi, testimonial, behind the scenes, FAQ, dan promo. Gunakan foto atau video yang jelas, buat caption yang mudah dibaca, dan berikan CTA yang sesuai dengan tujuan konten.

Setelah calon customer tertarik, arahkan mereka ke tempat yang memudahkan mereka melihat produk dan melakukan pemesanan. Salah satunya adalah katalog online yang dapat digunakan sebagai etalase produk sebelum customer melanjutkan percakapan melalui WhatsApp.

Tidak perlu menunggu sampai bisnis memiliki banyak produk atau kemampuan desain yang sempurna. Mulai dari produk yang sudah ada, pahami pertanyaan customer, buat konten secara konsisten, dan lihat jenis konten mana yang benar-benar menghasilkan respons.

Mulai Buat Katalog Produk Online

Setelah membuat konten promosi, pastikan calon customer memiliki tempat yang mudah untuk melihat produk Anda.

Dengan Qlike, Anda dapat membuat katalog online untuk menampilkan produk, foto, harga, kategori, dan deskripsi dalam satu link yang dapat dibagikan melalui media sosial maupun WhatsApp.

Tujuannya sederhana: dari konten yang menarik, customer dapat langsung menemukan produk dan melanjutkan proses pemesanan.


Artikel Lainnya:

- Cara Promosi Produk di WhatsApp Status agar Tidak Terlihat Spam
promosi produk di WhatsApp Status

- Cara Membuat Link Bio Instagram untuk Jualan: Satukan Produk dan WhatsApp
link bio Instagram untuk jualan

- Cara Foto Produk dengan HP agar Terlihat Profesional
cara foto produk dengan HP

- Cara Membuat Deskripsi Produk yang Menarik agar Customer Mau Membeli
cara membuat deskripsi produk

- Cara Membuat Katalog Produk Online Gratis untuk Jualan
katalog produk online gratis